Minggu, 19 Mei 2013

struktur alur


TugasVIII
TELAAH DRAMAINDONESIA
(Struktur Alur)

OLEH
NIKARLINA
F11111102
SASTRA INDONESIA

FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013

Analisis Struktur Alur dalam Drama I Tolok Karya Rahman Arge
            Menurut Luxemburg alur merupakan konstruksi yang dibuat oleh pembaca mengenai suatu peristiwa secara logik dan kronologik. Sudjiman mengatakan alur adalah pengaturan urutan peristiwa baik secara kronologis maupun kausalitas. Sedangkan  Waluyo, (2001:8) menerangkan bahwa plot merupakan jalinan cerita atau kerangka dari awal sampai akhir yang merupakan jalinan konflik antara dua tokoh yang berlawanan.
            Gustaf Freytag (dalam Waluyo,2001:8) unsur-unsur alur / plot, meliputi :
a.       Exposition atau awal cerita. Pada tahap ini biasanya pengarang memberikan pemaparan, pelukisan, pengantar atau pengenalan situasi awal mengenai waktu, tempat, keadaan, tokoh-tokoh dan peristiwa.
Dalam drama I Tolok karya Rahman Arge eksposisinya dapat dilihat pada penggalan cerita dibawah ini :
“I TOLOK DAENG MAGASSING ADALAH SALAH SATU NAMA YANG TELAH JADI LEGENDA DI KALANGAN MASYARAKAT BUGIS-MAKASSAR. I BERASAL DARI NEGERI GOA DAN TUMBUH MENJADI SEORANG LELAKI YANG HIDUPNYA MIRIP-MIRIP ROBIN HOOD.
PADA SEKITAR TAHUN-TAHUN AWAL MASUKNYA BELANDA DI SULAWESI SELATAN, IA MULAI. DILAWANNYA BELANDA DAN KAKI TANGANNYA. DIGARONGNYA MEREKA. DAN DIBAGIKAN HASILNYA KEPADA ORANG-ORANG MISKIN.
IA SUKAR DITANGKAP, TAPI TERTIPU DALAM SUATU KENDURI, DI RUMAH BACO PA’TENE TETANGGANYA. PASUKAN BELANDA MENGEPUNG KENDURI ITU DAN MEMBUNUHNYA. KINI IA DISEBUT PAHLAWAN, TAPI JUGA ADA YANG MENUDINGNYA SEKADAR PENYAMUN.” Rahman Arge (dalam Efendi, 2005:163)
Penggalan cerita diatas menjadi pengantar awalnya cerita yang memperkenalkan siapa si tokoh utama dalam hal ini I Tolok yang bersal dari negeri Goa. Dijelaskan pula situasi awal mulainya I Tolok melawan Belanda dan kaki tangannya yakni pada sekitar tahun-tahun awal masuknya belanda di sulawesi selatan. I Tolok menggarong mereka kemudian mebagi-bagikan hasil garongannya kepada orang-orang miskin. Namun, ia harus tewas dalam suatu kenduri yang dibuat oleh tetangganya Baco Pa’tene sebagai tipuan untuk membunuhnya. Setelah kematiannya, ia disebut sebagai pahlawan, tapi ada juga yang menudingnya sekadar penyamun.
b.      Komplikasi / penggawataan / pertikaian awal, dalam tahap ini pengarangan menyajikan latar belakang atau yang menjadi penyebab pertikaian awal antar tokoh dalam cerita. Seperti yang terlihat pada penggalan drama I Tolok karya Rahman Arge di bawah ini:
“PADA SEKITAR TAHUN-TAHUN AWAL MASUKNYA BELANDA DI SULAWESI SELATAN, IA MULAI. DILAWANNYA BELANDA DAN KAKI TANGANNYA. DIGARONGNYA MEREKA. DAN DIBAGIKAN HASILNYA KEPADA ORANG-ORANG MISKIN.”Rahman Arge (dalam Efendi, 2005:163).
Pada penggalan cerita di atas dijelaskan bahwa penyebab terjadinya pertikaian awal antar tokoh adalah masuknya Belanda di Sulawesi Selatandan I Tolok mulai melawan serta menggarong Belanda dan kaki tangannya dan membagikan hasilnya kepada orang-orang miskin.
c.       Klimaks atau titik puncak cerita, dimana dalam tahap ini pengarang menyajikan konflik yang meningkat hingga mencapai klimaks atau titik puncak kegawatan dalam cerita.
Dalam drama I Tolok karya Rahman Arge peningkatan konfliknya terlihat ketikaJahek kembali membawa berita kematian  I Tolok dan sahabat-sahabatnya yang lain dalam kenduri yang dibuat oleh Baco Pa’tene.
“JAHEK : Baco Pa’Tene, Si Kumis Melintang, tak dapat dipercaya.
SARAMPA : Ia dengan kehalusannya yang beracun. Telah kuduga sebelumnya. Upacara berdarah! Telah lama ia siapkan! Jahat!” Rahman Arge (dalam Efendi, 2005:176).
Penggalan dialog di atas memperjelas bahwa kenduri yang dibuat oleh Baco Pa’Tene  adalah sebuah tipu daya untuk menjebak I Tolok dan kemudian membunuhnya.
      Setelah I Tolok tewas, orang-orang kemudian menjadi resah karena pelindung mereka telah tiada. Keresahan mereka kemudian berubah menjadi amarah sekaligus kekuatan untuk melawan Belanda. Mereka kemudian memutuskan untuk membalaskan kematian I Tolok kecuali Orang Pertama yang memutuskan lebih memilih bersekutu dengan Tuan Petorok. Akhirnya timbullah perselisihan antara Orang Ketiga dan orang pertama yang menyebabkan sekali lagi I Tolok telah mati.
“ORANG KETIGA         : (MENCEGATNYA) Mau kemana kau ?
 ORANG KESATU         : Ke Baco Pa’Tene
 ORANG KETIGA          : Langkahi dulu mayatku! Cabut badikmu!.......”Rahman Arge (dalam Efendi, :191).
“ORANG KETIGA         : (MEMEGANG PERUTNYA, MELEMAH, DAN PUCAT) Saya basah daengku! (IA REBAH)
ORANG KESATU          :(MEMECAHKAN KESUNYIAN SAMBIL BERLARI KE DALAM KELAM) hidup memang berpihak padaku.”Rahman Arge (dalam Efendi, 2005:192).
      Setelah perselisihan diatas, Orang ketiga tewas dan Orang kesatu menemui Baco Pa’tene. Kemudian Orang-orang yang lainnya semakin memuncak amarahnya untuk melawan Belanda dan kawanannya. Mereka kemudian bersatu menunggu kedatangan mereka.
d.      Resolusi, dalam tahap ini konflik yang memuncak mulai mereda, rahasia mulai terkuak, jalan kemuar mulai di temukan.
Dalam drama I Tolok karya Rahman Arge ini konflik mulai mereda ketika Baco Pa’tene, Orang kesatu,  Komandan beserta serdadunya datang dan memberikan penawaran. Namun, orang-orang marah dan kemudian menyerbunya. Sehingga komandan lalu memerintahkan serdadunya untuk menembak. Dapat dilihat pada penggalan teks dibawah ini :
“(ORANG-ORANG MARAH; MERAUNG DAN MENYERBU. KOMANDAN PANIK , DAN MEMERINTAHKAN TEMBAK. SEMUA TEWAS. DIAM. KOMANDAN TERCENUNG MEMAN-DANGI MAYAT-MAYAT ITU)”Rahman Arge (dalam Efendi, 2005: 198).
Kemudian setelah membunuh orang-orang itu, si Komandan memerintahkan kembali seradadunya untuk membunuh Baco Pa’tene dan Orang kesatu. Hingga tak ada lagi yang tersisa kecuali Jahek yang tanpa sepengetahuan si komandan ternyata tidak mati karena hanya ditembaki dengan peluru dingin.
e.       Conclusion atau selesaian, dalam tahap ini merupakan bentuk penyelesaian akhir dari sebuah cerita.
Dalam drama I Tolok karya Rahman Arge ini, kemudian berakhir ketika Jahek bercerita tentang kisah I Tolok dan akhirnya setelah Jahek menceritakannya, ia pun meninggal. Seperti pada penggalan teks dibawah ini :
“JAHEK         : (SEBELUM PADA AKHIRNYA ROBOH, SEMPAT TERSENYUM) selamat datang, Daengku... Jemput tanganku ke atas gero-bakmu...”Rahman Arge (dalam Efendi, 2005:198).
Penggalan teks di atas menjadi akhir dari cerita drama yang menjelaskan kematian Jahek yang damai dengan senyumannya sebelum meninggal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar