Minggu, 19 Mei 2013

LINGUISTIK BANDINGAN HISTORIS


Dari penggalian-penggalian arkeologis di pelbagai tempat ahli-ahli purbakala memperkirakan bahwa kehadiran makhluk yang mirip manusia (hominoid) sudah ada beberapa juta tahun yang lalu. Makhluk yang disebut hominoid adalah sejenis makhluk yang termasuk dalam kelas makhluk yang memiliki bentuk yang mirip dengan manusia, tetapi kekurangan ciri-ciri tertentu, misalnya ukuran otak.
            Pithecanthropus (yang tengkorak-tengkoraknya banyak terdapat di Mojokerto, Sangiran, Trinil) oleh Dr. Teuku Jacob diperkirakan berkomunikasi linguistic secara terbatas, tetapi masih harus dibantu oleh isyarat-isyarat tubuh. Ia sudah memiliki pra-bahasa (Jacob,1980: 85). Kesimpulan Dr. Jacob bahwa manusia Pithecantropus sudah bisa berbahasa ditunjang oleh kenyataan, bahwa sikap tegak sudah tercapai, meskipun lentik leher masih belum sempurna. Sikap tegak, demikian menurut Dr. Jacob, merupakan factor yang sangat penting untuk memungkinkan adanya saluran suara yang sesuai untuk berkomunikasi verbal.
Selanjutnya Dr. Jacob menarik kesimpulan sebagai berikut:
Dengan demikian kami berpendapat bahwa bahasa berkembang perlahan dari system tertutup ke system terbuka antara 2 juta hingga ½ tahun yang lalu, tetapi baru dapat dianggap sebagai proto-lingua antara 100.000 hingga 40.000 tahun lalu. Perkembangan yang penting baru terjadi sejak H. Sapiens, tetapi perkembangan bahasa yang pesat barulah di zaman pertanian. (Jacob,1981: hal.85)

Karena tidak ada data-data yang tertulis mengenai bagaimana timbulnya bahasa umat manusia dahulu kala, maka telah dilonrtarkan berbagai macam teori mengenai hal itu.












BAB II
PEMBAHASAN
a.      Pengertian
Linguistik Bandingan Historis (Linguistik Historis komperatif) adalah suatu cabang dari ilmu bahasa yang mempersoalkan bahasa dalam bidang waktu serta perubahan-perubahan unsur bahasa yang terjadi dalam bidang waktu tersebut. Unsur-unsur bahasa itu dapat diperbandingkan berdasarkan kenyataan dalam periode yang sama, maupun perubahan-perubahan yang telah terjadi antara beberapa periode.
            Linguistik Bandingan Historis pertama-tama merupakan sebuah cabang ilmu Bahasa yang membandingkan bahasa-bahasa yang tidak memiliki data tertulis, atau dapat pula dikatakan bahwa Linguistik Bandingan Historis adalah suatu cabang ilmu bahasa yang lebih menekankan teknik dalam pra-sejarah bahasa. Bahasa adalah suatu alat pada manusia untuk menyatakan tanggapannya terhadap alam sekitar atau peristiwa-peristiwa yang dialami secara individual atau secara bersama-sama.
b.      Tujuan Linguistik Bandingan Historis
Ada beberapa tujuan dan kepentingan Linguistik Bandingan Historis yakni sebagai berikut :
1)      Mempersoalkan bahasa-bahasa yang serumpun dengan mengadakan perbandingan mengenai unsur-unsur yang menunjukkan kekerabatannya. Bidang yang dipergunakan adalah bidang fonologi dan morfologi.
2)      Mengadakan rekonstruksi bahasa-bahasa yang ada dewasa ini kepada bahasa-bahasa purba (bahasa-bahasa proto) atau bahasa-bahasa yangmenurunkan bahasa-bahasa kontenporer.
3)      Mengadakan pengelompokan bahasa-bahasa yang termauk dalam satu rumpun bahasa.
4)      Akhirnya Linguistik Historis Kompratif juga berusaha untuk menemukan pusat-pusat penyebaran bahasa-bahasa proto dari bahasa-bahasa kerabat, serta menentukan gerak migrasi yang pernah terjadi.
c.       Teori – Teori
Dibawah ini akan dikemukakan teori-teori yang penting yang dilancarkan sejauh ini mengenai timbulnya bahasa.
1.      Teori tekanan social
2.      Teori onomatopetik atau ekoik
3.      Teori interyeksi
4.      Teori nativistik atau tipe fonetik
5.      Teori ‘Yo-He-Ho’
6.      Teori isyarat
7.      Teori permainan vocal
8.      Teori isyarat oral
9.      Teori control social
10.  Teori kontak
11.  Teori Hockett-Ascher
d.      Klasifikasi genetis
Klasifikasi genetis atau klasifikasi genealogis merupakan suatu proses pengelompokan pengelompokan bahasa-bahasa sebagai hasil yang dicapai dan tujuan yang ketika di atas, yaitu berusaha untuk mengadakan pengelompokan bahasa-bahasa yang termasuk dalam suatu rumpun.
Kelompok atau rumpun bahasa yang disimpulkan dari metode yang dikembangkan dalam Linguistik Bandingan Historis, adalah :
1)      Rumpun Indo-Eropa: terdiri dari cabang-cabang German, Indo-Iran, Armenia, Baltik, Slavia, Roman, Keltik, dan Gaulis.
2)      Rumpun Semito-Hamit:terdiri dari sub-rumpun Hamit_Koptis, Berber, Kushit, dan Chad; dan sub-rumpun Semit terdiri dari: Arab, Etiopik, dan Ibrani.
3)      Rumpun Chairi-Nil: bahasa-bahasa Bantu ( Luganda, Swahili, Kaffir, Subiya, Zulu, Tebele) dan bahasa khoisan (Bushman dan Hottentot).
4)      Rumpun Dravida:Bahasa-bahasa Telugu, Tamil, Kanari, Malayam, dan Brahuidi Baluchistan.
5)      Rumpun Austronesia:disebut juga Melayu-polinesia yang terdiri dari bahasa-bahasa Indonesia, Melanesia, Polinesia.
6)      Rumpun Austro-Asiatik: Mon-Khmer, Palaung, munda, Annam.
7)      Rumpun Finno - Ugris: Hungar (Magyar), Lap, Samoyid.
8)      Rumpun Altai:  Turki, Mongol, Manchu-Tungu.
9)      Rumpun Paleo-asiatis(Hiperboreis): bahasa-bahasa di Siberia.
10)  Rumpun Sino-Tibet: Cina, Tai, Tibeti-burma, Yenisei-Ostyak.
11)  Rumpun Kaukasus:Kaukasus Utara  dan Selatan (Georgia).
12)  Bahasa-bahasaIndian: Eskimo-Aleut, Na-Dene, Algonkin-Wakashan, hokan, Sioux, Penutian, Aztek-Tanoan, Maya.
13)  Bahasa-bahasa lainseperti: bahasa-bahasa Irian, Australia dan Kadai.
e.       Ciri-ciri Klasifikasi genetis
Klasifikasi genetis mengandung ciri-ciriberikut: non-arbiter, ekshautif, danunik. Klasifikasi genetis bersifat non-arbiter karena hanya ada satu dasar saja yang dipergunakan untuk mengadakan klasifikasi ini yaitu berdasarkan garis keturunan. Apa yang dirangkum dalam pengertian garis keturunan ini sebenarnya dikembalikan lagi pada kesamaan kata-kata, ciri-ciri fonologis, morfologis, dan sebagainya yang dianggap diwariskan dari bahasa-bahasa proto sebelumnya.
Ciri yang kedua adalah ekshautifatautuntas. Yang dimaksud dengan ekshautif atau tuntas adalah bahwa dengan mempergunakan garis keturunan tadi, semua bahasa di dunia dapat dikelompokkan dalam rumpun-rumpun, sub-rumpun, dan kelompok-kelompok tertentu. Dan yang ketiga yakni ketika tiap bahasa hanya dapat memiliki keanggotaan tertentu, dengan kata lain tidak mungkin pada saat yang sama bahasa itu menjadi anggota dari rumpun bahasa berlainan. Bahasa Indonesia misalnya sekali menjadi anggota rumpun bahasa Austronesia, untuk selamanya hanya masuk dalam rumpun itu; tidak mungkin ia masuk dalam rumpun Indo-Eropa misalnya. Tidak merangkap keanggotaannya ini disebut unik.
Dengan kemajuan teknologi dewasa ini, maka pengaruh timbal-balik antara bahasa-bahasa bertambah besar. Sehingga ada kemungkinan bahwa suatu bahasa mengandung pula ciri-ciri dari rumpun bahasa lainnya, disamping ciri-ciri rumpun bahasa yang diturunkan padanya secara genealogis. Walaupun klasifikasi genetis didasarkan pada garis keturunan, namun ia mempergunakan juga criteria tipologis yaitu criteria bunyi-arti, kriteria yang didasarkan pada bidang leksikal. Klasifikasi genetis dengan demikian merupakan suatu produk dari Linguistik Banding Historis itu sendiri.

f.       Sejarah Linguistik Bandingan Historis
Sejarah perkembangan Ilmu Bahasa dalam abad XIX dan pada awal abad XX, dapat dibagi dalam beberapa periode sebagai dikemukakan dibawah ini.
1.      Periode I (1830-1860)
Periode ini dimulai dengan Franz Boop (1791-1867) dan diakhiri dengan August Schleicher. Franz boop dianggap sebagai tokoh yang meletakkan dasar-dasar Ilmu Perbandingan Bahasa.
Dalam periode ini telah dimulai juga penyelidikan etimologis kata-kata, tetapi dengan mempergunakan metode yang lebih baik dari masa sebelumnya. Tokoh utamanya adalah F. Pott (1802-1887). Seorang tokoh lain yang perlu disebut namanya adalah Wilhem von Humboldt (1767-1835). Ia mengemukakan suatu klasifikasi atas bahasa-bahasa didunia yang umum diterima sebagai penyempurnaan dari klasifikasi atas bahasa-bahasa di dunia yang umum diterima sebagai penyempurnaan dari klasifikasi von Schlegel.

2.      Periode II (1861-1880)
Periode dimulai dengan seorang tokoh terkemuka August Schleicher (1823-1868) dengan bukunya yang terkenal Compendium der vergleichenden Gramatik .Tokoh yang kedua adalah G. Curtius (1820-1885). Ia berjasa besar dalam menerapkan metode pertandingan untuk Filologiklasik. Tokoh-tokoh lain yang perlu disebut dalam periode ini adalah Max Muller (1823-1900) dan D. Whitney (1827-1894).
3.   Periode III (1880-akhir abad XIX)
Penemuan-penemuan baru yang diperoleh dalam tahun 1870-1880, mempengaruhi juga perkembangan Ilmu Bahasa. Dalam periode sesudah tahun 1880, muncullah suatu kelompok ahli tata bahasa yang menamakan dirinya Junggramatiker (Neo Grammatici). Mereka menambahkan lagi kaidah-kaidah baru pada hukum-hukum bunyi yang sudah ada: “Bunyi-bunyi berubaha menurut Hukum bunyi tertentu tanpa terkecuali (ausnahmlos)”.
Karya utama yang kemudiann diikuti oleh ahli-ahli lain jaman ini adalah Grundriss der verleichenden Gramatik der indogermanichen Sprachen (1866-1900) yang disusun bersama Karel Bruggmann dan B. Delbruck, yang terdiri dari lima bagian. Bagian pertama dan kedua disusun oleh Bruggmann yang membicarakan fonologi, morfologi, dan pembentukan kata, sedangkan ketiga bagian lainnya ditulis oleh Delbruck mengenai sintaksis.
4.      Periode IV (awal abad XX)
Ilmu Bahasa dalam awal abad XX sebenarnya sudah dimulai dengan penemuan-penemuan dari abad XIX. Penemuan-penemuan pada abad XIX yang belum memberi ciri khusus sebagai aliran yang khas, baru menemukan bentuknya yang khas itu pada abad XX. Sebab itu juga pada awal abad XX lahirlah bermacam-macam aliran baru dalam ilmu bahasa. Aliran-aliran yang terpenting adalah :
a)      Fonetik berkembang sebagai studi ilmish. Sejalan dengan perkembangan itu para ahli mencurahkan pula penelitian atas dialek-dialek.
b)      Sejalan dengan perkembangan studi atas dialek-dialek dengan mempergunakan metode-metode fisiolegi, fisika, dan psikologi, maka muncul pula cabang baru dalam Ilmu Bahasa yaitu Psikolinguistiik dan Sosiolinguistik.
c)      Suatu aliran lain dari awal abad XX adalah aliran Praha, yang muncul sebagai reaksi terhadap studi bahasa yang terlalu halus sampai kepada bahasa individual (idiolek).
Berhasil tidaknya Linguistik Historis Kompratif banyak tergantung dari kesimpulan-kesimpulan yang dihasilkan dalam Linguistik Deskriptif.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar